Selasa, 26 Februari 2013


3. Slovakia
56 persen, negara ini pangsa listrik nuklir yang dihasilkan sangat besar. Dan Slowakia adalah negara yang antusias menambahkan dua reaktor dari lima reaktor yang sudah ada . (Sebuah tempat pengisian bahan bakar kecelakaan fatal pada tahun 1977 meninggalkan pabrik keenam tidak dapat digunakan.)
Khawatir tentang keamanan Slovakia Soviet-era nuklir, Uni Eropa menuntut penutupan reaktor kedua tertua ini di Slovakia . meskipun fakta bahwa Slowakia menghabiskan US $ 300 juta tersebut untuk mengupgrade reaktor . Slowakia yang jengkel menurutinya, tetapi publik mendukung segala keputusannya.
Sejak 1986 Slovakia telah dipompa dengan limbah radioaktif menjadi "sementara" penyimpanan kolam, menurut WNA. Pilihan situs untuk permanen, limbah terpencil repositori "sedang berlangsung, diakui tugas yang sulit bagi sebuah negara repositor untuk mengembangkan nuklir secara luas.

2. Lithuania
Datar, berawan, bangkrut dan sedih tergantung pada gas alam Rusia, Lithuania memiliki kematian-pegangan pada satu-satunya reaktor, Ignalina. Setelah reaktor terbesar di dunia, penuaan Ignalina masih memasok 72 persen listrik Lithuania. Tetapi pada tahun 2009, Ignalina akan pergi gelap. Menurut bangsa Badan Energi Nuklir, Lithuania's Chernobyl-gaya binatang Uni Eropa memberikan mimpi buruk.

7 Negara Pengguna Nuklir


1. France
Dalam pencarian Faust energi nuklir , Perancis menduduki peringkat teratas dalam daftar negara yang paling tergantung pada tenaga nuklir. Sebuah atom infrastruktur yang kecil mampu menyalakan 76 persen lampu yang ada di kota , dan memungkinkan Perancis untuk menonton drama dari atas balkon.
Sejak PLTA menghasilkan sebagian besar listrik, sisanya 24 persen dari Tenaga pembangkit listrik tenaga surya Perancis, Perancis memiliki listrik yang bersih, setidaknya dalam hal emisi karbon.
Sampah yang tidak dapat didaur ulang languishes di daur ulang di pabrik nuklir di Normandia, jadi pernacis merupakan negara teladan yang mampu memanfaatkan energi nuklir secara maksimal.

Ternyata Tsunami Juga Bisa Terjadi Pada Danau

Ternyata Tsunami Juga Bisa Terjadi Pada Danau


Selama ini kita hanya mengetahui tsunami hanya terjadi di laut. Nyatanya, ilmuwan menemukan bahwa tsunami mungkin saja terjadi di danau. Hal ini berdasar temuan di Danau Jenewa, sebuah tsunami kuno pernah terjadi di tempat ini karena dipicu oleh longsoran Alpine.
"Orang-orang berpikir, yang berisiko tsunami adalah mereka yang tinggal di pinggir pantai atau di wilayah yang tidak jauh dari aktivitas seismik besar," kata peneliti, Guy Simpson, geolog dari University of Geneva. "Kami punya contoh yang bertolak belakang dengan itu."
Danau Jenewa
Para ilmuwan menganalisi Danau Jenewa (Lake Geneva) di Swiss. Di mana lebih dari 1 juta orang tinggal di tepiannya, 200.000 di antaranya berada di wilayah Jenewa, kota terpadat kedua di negara itu.
Pada tahun 563 Masehi, batu raksasa yang berada di pegunungan berjarak 70 kilometer dari Jenewa, menurut dua catatan sejarah -- satu dari Gregory of Tours, lainnya dari Marius, uskup Avenches -- peristiwa jatuhnya batu, yang disebut sebagai Tauredunum terjadi titik di mana Sungai Rhone memasuki Danau Jenewa. Batu-batu itu menjatuhi beberapa desa di sana.
Bencana kemudian berlanjut, jatuhnya batu-batu itu memicu tsunami di Danau Jenewa yang memporakporandakan apapun di pinggir danau, merusak desa, menghancurkan jembatan dan pabrik, bahkan meruntuhkan tembok kota Jenewa, menewaskan sejumlah orang di dalamnya.
Untuk menyelidiki bencana itu, para ilmuwan meneliti bagian terdalam Danau Jenewa secara seismik. Penelitian itu mengungkap, deposit raksasa sedimen dasar danau sepanjang lebih dari 10 kilometer dan lebar 5 km, meliputi volume 250 juta meter kubik. Deposit itu memiliki kedalaman rata-rata 5 meter, makin menebal di dekat delta Rhone, menunjukkan dari mana ia berasal.
Inti sampel sedimen danau menunjukkan deposit raksasa tersebut tercipta antara 381 dan 612 Masehi, menguatkan dugaan peristiwa Turedunum.
Para peneliti mengatakan dampak jatuhnya batu pada sedimen rapuh di dekat wilayah tepi danau, menyababkan sebagian delta Rhone runtuh, lalu memicu tsunami.
Para ilmuwan memperkirakan, gelombang setinggi 8 meter mampu mencapai Jenewa dalam waktu 70 menit setelah batu itu patah, menerjang dengan kecepatan 70 kilometer per jam.
"Ia bergerak sangat cepat, lebih cepat dari kecepatan lari manusia,"kata Simpson kepada OurAmazingPlanet.
Mengingat sedimen sungai saat ini masih terbangun di lereng delta Rhone, para peneliti mengatakan, tsunami masih bisa terjadi di Danau Jenewa di masa depan. Ia mungkin dipicu jatuhnya batu, gempa bumi, atau badai besar.
"Tsunami pernah terjadi di Danau Jenewa di masa lalu, ada kemungkinan ia kembali terjadi di masa depan," kata Simpson.
Peneliti kini sedang mengebor kedalaman sedimen Danau Jenewa, untuk menemukan petunjuk, seberapa sering tsunami terjadi, dan memperkirakan kapan bencana akan terulang.
Simpson dan para koleganya, Katrina Kremer dan Stéphanie Girardclos menjelaskan temuannya secara detil dalam jurnal online, Nature Geoscienceedisi 28 Oktober 201

Ternyata Tsunami Juga Bisa Terjadi Pada Danau

Ternyata Tsunami Juga Bisa Terjadi Pada Danau


Selama ini kita hanya mengetahui tsunami hanya terjadi di laut. Nyatanya, ilmuwan menemukan bahwa tsunami mungkin saja terjadi di danau. Hal ini berdasar temuan di Danau Jenewa, sebuah tsunami kuno pernah terjadi di tempat ini karena dipicu oleh longsoran Alpine.
"Orang-orang berpikir, yang berisiko tsunami adalah mereka yang tinggal di pinggir pantai atau di wilayah yang tidak jauh dari aktivitas seismik besar," kata peneliti, Guy Simpson, geolog dari University of Geneva. "Kami punya contoh yang bertolak belakang dengan itu."
Danau Jenewa
Para ilmuwan menganalisi Danau Jenewa (Lake Geneva) di Swiss. Di mana lebih dari 1 juta orang tinggal di tepiannya, 200.000 di antaranya berada di wilayah Jenewa, kota terpadat kedua di negara itu.
Pada tahun 563 Masehi, batu raksasa yang berada di pegunungan berjarak 70 kilometer dari Jenewa, menurut dua catatan sejarah -- satu dari Gregory of Tours, lainnya dari Marius, uskup Avenches -- peristiwa jatuhnya batu, yang disebut sebagai Tauredunum terjadi titik di mana Sungai Rhone memasuki Danau Jenewa. Batu-batu itu menjatuhi beberapa desa di sana.
Bencana kemudian berlanjut, jatuhnya batu-batu itu memicu tsunami di Danau Jenewa yang memporakporandakan apapun di pinggir danau, merusak desa, menghancurkan jembatan dan pabrik, bahkan meruntuhkan tembok kota Jenewa, menewaskan sejumlah orang di dalamnya.
Untuk menyelidiki bencana itu, para ilmuwan meneliti bagian terdalam Danau Jenewa secara seismik. Penelitian itu mengungkap, deposit raksasa sedimen dasar danau sepanjang lebih dari 10 kilometer dan lebar 5 km, meliputi volume 250 juta meter kubik. Deposit itu memiliki kedalaman rata-rata 5 meter, makin menebal di dekat delta Rhone, menunjukkan dari mana ia berasal.
Inti sampel sedimen danau menunjukkan deposit raksasa tersebut tercipta antara 381 dan 612 Masehi, menguatkan dugaan peristiwa Turedunum.
Para peneliti mengatakan dampak jatuhnya batu pada sedimen rapuh di dekat wilayah tepi danau, menyababkan sebagian delta Rhone runtuh, lalu memicu tsunami.
Para ilmuwan memperkirakan, gelombang setinggi 8 meter mampu mencapai Jenewa dalam waktu 70 menit setelah batu itu patah, menerjang dengan kecepatan 70 kilometer per jam.
"Ia bergerak sangat cepat, lebih cepat dari kecepatan lari manusia,"kata Simpson kepada OurAmazingPlanet.
Mengingat sedimen sungai saat ini masih terbangun di lereng delta Rhone, para peneliti mengatakan, tsunami masih bisa terjadi di Danau Jenewa di masa depan. Ia mungkin dipicu jatuhnya batu, gempa bumi, atau badai besar.
"Tsunami pernah terjadi di Danau Jenewa di masa lalu, ada kemungkinan ia kembali terjadi di masa depan," kata Simpson.
Peneliti kini sedang mengebor kedalaman sedimen Danau Jenewa, untuk menemukan petunjuk, seberapa sering tsunami terjadi, dan memperkirakan kapan bencana akan terulang.
Simpson dan para koleganya, Katrina Kremer dan Stéphanie Girardclos menjelaskan temuannya secara detil dalam jurnal online, Nature Geoscienceedisi 28 Oktober 201

Ouchanka (Rusia)
Ouchanka adalah topi bulu tradisional Rusia dan Skandinavia , dilengkapi dengan sisi berengsel yang bisa menutupi telinga dan leher, atau tetap terikat ke bagian atas topi.

10 Pakaian Tradisional Terpopuler di Dunia



Kebaya (Indonesia)

Kebaya merupakan pakaian tradisional Indonesia yang berasal dari budaya melayu (Asia Tenggara). Banyak pakaian tradisional di Asia Tenggara yang menyerupai kebaya seperti di negara Malaysia, Brunei, Singapura. Kebaya adalah blus (pakaian atasan) yang dipadu dengan kain sebagai bawahan, kain yang dikenakan juga merupakan kain tradisional seperti batik, songket. Sehingga tidak mengherankan jika kebaya banyak ragamnya seperti kebaya Jawa, kebaya Bali, kebaya Sunda dan lainnya. Kebaya akan terlihat anggun, mewah dan berkelas jika dimodifikasi dengan bordir, payet, manik-manik dan lainnya.